Rabu, 23 Oktober 2013

Dia Dia Dia.... My Elfi Fansuri (di awal PL)



Hari ini ke-empat dia PL. di PKPU jalan By pass lebih tepatnya itu rumah zakat.. kemaren itu emang iya. Sengaja ku bawa diriku  mengintip lokasi dimana dia PL, syukur ndak di luar padang J Masih ingat dulu dia pernah bercerita bahwa dia akan di kirim ke Jakarta untuk PL di sana. Galau rasanya dengar kata-kata itu. sekarang ntah rasa apa yang muncul, ini masih berhubungan dengan komunikasi. awal dia memulai KKN, mungkin aku juga yang super penasaran dengan lokasi KKNnya. Sepulang kuliah, ku sempatkan singgah karna kabar-kabar angin pembagian lokasi untuk mahasiswa KKN telah di pajang dan di umumkan. Beberapa mahasiswa semester VI pun telah berjajaran disana. Akupun juga ikut mencari mulai dari pojok yang berlokasikan di pasaman, batu sangkar  berjalan ke ujung jari jemariku menelusuri satu persatu nama-nama dari mahasiswa yg akan berangkat KKN. Akhirnya kutemukan nama dia  berada di lokasi pariaman lengkap dengan alamat kecilnya, serta beberapa anggota dalam kelompok kecil itu. Ku ketik di handphone secara detail dan ku send langsung wktu itu. Beberapa numbor ku save, siapa-siapa saja orang yang  akan berkecimpung dengannya termasuk kak Mira seniorku waktu di MAN dulu,,
Selang waktu berjalan, akhirnya hari keberangkatan itu datang, beberapa minggu sebelumnya. Tak pernah ku berjumpa dengannya karna seminggu sebelum keberangatan, tepatnya hari Senin,3 Juni 2013 dia harus pulang kampung ke Aceh Singkil, tepatnya di kepulauan Teluk Nibung untuk menghadiri upacara pernikahan kakak yang dia anggap paling sayang sama dia.. (dia kakak yang beruntung mempunyai adek shaleh yang ku simpan banyak pengharapan terhadapnya) secuil cerita tentang keberangkatan sang idola ke kampung halaman tercinta, siang itu dalam suasana badai. Ku sempatkan bolos kuliah karna ada urusan di PT Semen Padang berdua dengan Linta Wardah teman semasa MAN dulu yang sekarang kuliah di Fakultas Tarbiyah,, Dalam perjalanan pulang dari PT Semen muncul inisiatif untuk membelikan dia makanan untuk berbuka puasa. Karena rutinitas kebiasaan baik yang dia ajarkan. menjadi rutinitas baik juga bagiku, yaitu membiasaakan puasa senin-kamis, rutinitas itu mulai ku biasakan sejak aku mulai mengenalnya. Sebelum dia yang tercinta berangkat ke kampung halaman. Aku singgah di minimarket dekat simpang tanah sirah..bingung juga mw membeli apa? aku ambil saja apa yang aku kira-kira dia suka. Sebenarnya dari pagi emang udah niat. Tapi niat itu ndak begitu kuat sampai dorongan kuat untuk insiatif itu muncul dari linta. siang itu kita masih tlfonan dan smsan. Ini puncaknya pas mau ngasihin. Ne hari badai, pohon-pohon  bergoyang melambai-lambai, debu jalanan terbang semua di tambah lagi telapak tangan ne mendingin gemetar mw ketemu dia..Hmm alam cukup melambangkan suasana hati akan pertemuan ini Gugup ini tetap,, sebenarnya sudah biasa. Tapi kadang-kadang lain-lain pula gugupnya. Sesampai di lubeg simpang Mushalla Hidayah ku tlfon dia.. tp tak di angkat sampai berkali-kali. Tetap tak ada jawaban, hati mulai kacau, mungkin dia telah berangkat pergi. Ku sms ndak di balas-balas.. mulai galau dan duduk termenung angin bertiup kencang membuat mata ku semakin perih karena debu jalanan, hijabkupun ikut di balik-balik angin..aku diam Sejenak…. ku pandangi lagi. Masuk sms, “afwan dek bg baru selesai shalat. Ne mw berangkat lagi”.. langsung ku berdiri dan ku telfon,, 2x ku mscl baru di angkat sama si abang :D  travel yang menghantar dia kekampung halaman keluar dari simpang mushalla lepas ne sesek rasanya, dia bertanya aku lagi di mana?? “lagi di simpang mushalla”. Bernada kaget,, Dimana? Akhirnya dia melihatku, ku hampiri tu mobil dan ku berikan bekal yang ku beli tadi sambil berkata “ne untuk berbuka ntar, hati-hati di jalan ya bg”.waktu itu hari menunjukkan pukul 16:05:13 sambil senyum menghantar kepergiannya Ku palingkan wajah dan ku hidupkan motor menuju rumah linta yang di ketaping, Haru pilu sedih melepasnya waktu itu. Sungguh resah ne hati. Sungguh gelisah ne raga, dalam gemetarnya diri aku menangis, hujanpun ikut mengguyur. Sms dia pun masuk “nekat betul sya y.. Hmm mksh ya” iya bg “hujan sya,hati-hati” ...., tepat pukul 18:17:33 kau tinggalkan tanah kelahiranku ini. Pilu hati.. demi kerindunmu dengan sanak-saudara dan kakak yg lagi berbahagia yang rindu akan hadirmu, turut ku doakan perjalanmu,,salam doa agar engkau selamat sampai tujuan dan kembali lagi menuntut ilmu di negeri ku ini. Esok harinya tepat tanggal 04 juni 2013, 17:52:03 dia mengabarkan bahwa dia telah sampai di singgkil, dan esok paginya dia harus naik kapal ke teluk nibung.. sungguh kampung yang ku idamkan untuk ku melangkahkan kaki amat jauh dari pelupuk mata. Dia pergi, hatikupun serasa terbawa ikut pergi bersamanya….itulah hari terakhir kita bertemu sebelum dia berangkat KKN ke Pariaman.
Dan pagi itu sebelum dia berangkat KKN, dengan suasana yang mendung ku berjalan dari gerbang IAIN Imam Bonjol menuju bangku perkuliahan dengan kaki yang terbalut perban karena kecelakaan yang ku lalui bersama fitri ramadhani karena hujan-hujan pulang dari pantai Purus menepis kegundahan hati...hingga fakultas dakwah dengan hati yang sedikit berkecil.. pada hari itu kuliahpun tak focus. Fikirku hanya dia “fansuri” lama tak jumpa, diriku rindu..Dengan suasana yang sedikit badai itu ku ke kantin DW. Di sana ku bertanya sama Ibu kantin “Bu adakah bg fan kesini ntuk berpamitan??”.. ibu berkata “belum, mungkin sebentar lagi si elfan  kesini ca”. Hati tak tenang ku melangkah kelantai 2 fakultas dakwah di sana ku liat  berkerumun-kerumunan orang  menggenakan Almamater hendak berangkat kedaerah lokasi KKN masing-masing, ku telah telah, ku pandangi dan ku perhatikan masing2 kelompok orang yang berdiri di lapangan depan GSG, tak satupun dari mereka  ada dia di situ. Aku pun turun  dan bergabung duduk dengan anggota BKI-C di jenjang GSG, seraya bercengkrama dengan beberapa teman-teman seniorku kak ira lewat. Aku memanggilnya, seraya bertanya “di mana lokasi kak  KKN”?? Pariaman,  ternyata kak ira senagari dengan idolaku. Kak ira bercerita dia bendahara di kanagarian itu, dan ketuanya Elfi Fansuri. Aku senyum. Sedikit berkata lega “kak aisyah ngefans sama abng tu, klu kak dah di lokasi kak liatin bg tu ya?” kak ira jawab “Insya Allah y dek”.. lega hati tak sampai di situ, kawan ku lewat. Beberapa dari mereka tau bahwa aku mengidolakannya. Mereka bila beremu dengan sang idola di Blok M, ku bawa hati yang rindu ini ke blok M, ku liat dari sudut ke sudut, tapi tak jua ku temukan. Ntah kecewa nta apalah rasa hati. Berbalik lagi ke Kantin DW. Dan ibu bilang “barusan elfan ka siko syah, nyo lah barangkek. Tasasak sasak kasiko pamitan samo ibu” senyum J tapi ibo (sudahlah, pertemuan Engkau yang ngatur Rabb)..cukup berkaca-kaca mata ne hari itu,,  terbesit hati yang bertanya-tanya. Apa engkau lupa atau bagaimana atau sudah tak peduli lagi, beberapa getir hati ku fikir-fikirkan engkau dgn kawan baru. Lingkungan baru bahkan dengan warna yang baru nantinya..dalam lingkaran hati seorang wanita  aku sungguh sangat takut, siapa shalehah shalehah  yang memasakkan makanan untuk dia, siapa shalehah-shalehan yang akan berkecimpung dengan dia sebulan kedepan, bahkan penasaran dengan paras-paras mereka, selama itu waktu ku biar percuma tanpa menghubunginya,,, hanya karna rasa takut tak terbalaskan apa yg ku lontarkan. Sejak itu komunikasi kita bak sms yang tersangkut jaringan.. jarang sampainya, terbalaspun bisa di kata tidak. Dalam lingkaran itu aku masih mempositifkan fikiran, engkau berperan penting di sana, sumbang tindih fikiranmu dibutuhkan.. berkecimpunglah. J dan sedikit pelepas rindu Sebuah sms minal aizin walfaizin masuk ke hp ne, beberapa patah ku balas. Dia bertanya berapa kali aku mentargetkan katam Al’qur’an Ramadhan ne.Aku bilang Insya Allah sekarang dalam proses mentamatkan yang lama, habis ini Insya Allah. Dan dia pu sedikit bercerita tentang keunikkan shalat di negeri itu “ntar kalau ada waktu bg ceritakan” dia berjanjikan akan menceritakannya kepadaku, selepas kegiatan KKN. “terbayang dek sya bara lamo shalatnyo tu?” jadi iming iming fikiran bagi ku menotasikan bunyi smsmu itu..ku bayangkan engkau bercerita dengan nada hebbohnya  tentang suatu hal yang tak pernah kau saksikan sebelumnya tentang keunikan-keunikan budaya orang.. tapi tetap, semua seperti biasa. Waktu berlarut kabarpun tak ada. Rasa canggung muncul, tiap mw menghubungi, hati kecil ne selalu berkata “aisyah jangan ganggu dia, dia sibuk, dia ketua bakal banyak yang akan dia fikirkan, bakal banyak hal yang akan dia urus.  Ntar kalau kamu sms, dia nggak bakal ada waktu buat balas” selalu begitu setiap rindu itu muncul. Tapi tertahankan…. L  beberapa sms kadang msih sanggup ku send itupun Cuma ucapan selamat berbuka, tertanda sibuk, dia hanya balas “Syukron ukhti” kadang itu cukup rasanya bagiku melepas rindu ini. Sesekali ku telfon kak ira, menanyakan bagaimana kabarnya. Bagaimana dia dan lingkungannya. Jarak itu mulai kasar telihat ketika kegiatan KKN itu usai, ku beranikan diri untuk menghubunginya, tapi ndak di angkat. Bukan kepalang melayang fikiran ne.. ku selangkan sedikit waktu, dan ku coba lagi. Masih tetap ndak di angkat. Iya…… waktu itu aku nangis, anggapan itu mulai lain..paradigmaku mulai merambah kemana-mana berusaha menetralisir keadaan dengan menganggap “semua udah biasa”. Dan akan menjadi kebiasaan esoknya. Besok hari setelah itu, ku coba lagi Alhamdulillah di angkat, aku bingung mw bilang apa.. berusaha untukku bercerita tapi tetap kaku adanya. Tak seperti biasa. Padahal aku ingin mendengar celotehannya tentang pengalaman KKN itu. Ingin ku maki diri ku waktu itu. Kenapa?? Aku rindu tapi bingung, sedangkan dia hanya diam tanpa kata. ingin rasanya memaki batin ini. Kau hanya diam. Pasrah,, aku mulai memberi jarak. Aku diam aku tak berkata. Respon balikpun tak ada. Hingga telepon mati sendiri. Lepas Rasanya. Tapi batin tak tenang bertanya-tanya. Kita telah berjarak.  Pipiku telah basah.. dan Kau telah berubah.
Awal PL ini bukan takut dia akan berpalingkan muka dengan yang lain atau kawatir kita akan berjarak lagi. Tidak… bukan itu cemasku . tapi rasa Tak ingin aku menggagu dia dan studinya persis seperti ramadhan dulu.. kita akan jarang bertemu. Menghubungi dia pun. Rasa ku fikir-fikir,, kadang ku tahan rasa sungkan demi sebuah kalimat “penasaran” semua kadang berubah-ubah. Tadi pagi kita masih berkomunikasi,,, senang rasanya walau dalam keadaan panik yang amat luar biasa. Karna flesdishku ku kukira hilang. Alhamdulillah untung jatuhnya di lapangan rumah kak is. Karena semalam aku silat di sana... kalau ndak ketemu mungkin hari ini. Hari terkacau dalam hidupku selama kul. Pagi ini aku tampil makalah dua mata kuliah. Instrumen data BK dan makalah pribadi Pengantar BK, syukur tu flesh ketemu. Tapi sayangnya dosen Instrumen ndak datang tu makalah ndak jadi di presentasikan.. dan siang ini, barusan pulang kul.. segaja tak ku lewati lampu merah. Karena aku ingin melihat sang idola J eehh nyatanya Allah tau niat ku pas lewat aku lihat dia mau masuk pintu gedung PKPU. Sungguh indah skenario Mu Rabb.. Rabbi Izzati. Tak beberapa lama lagi dia akan seminar proposal. Di semester ini pasti dia akan sangat sibuk dengan studinya. Berharap dia cepat menyelesaikan kuliahnya agar gelar sarjana tersandang dipundaknya di akhir semester VII ini.. Studi ku di semester III ini karna dia Rabb. Hanya tak ingin ku buang hari tanpa melihat dia di kantin DW. Ku bayangkan waktu yang sempit ini. Seandainya studi dia cepat selesai. Takkan ku pandangi lagi dia di semester depan.. setelah ini aku  akan sendiri..  menyusul toga sarjana yang di mimpikan ayah dan ibu. Kuliah di sini masih bukan ingin ku. Terpatah-patah ku menjalani hari-hari ini. Cuma 1 yang bisa memotivasi mengispirasi. Yaitu dia  ELFI FANSURI. Salam manis masih milik dia J

                                                                   Padang, 2013-10-24
                                                                   Aisyah amini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar