Selasa, 24 Juni 2014

cerpen Aisyah


Tengah ku ingat kisah wanita tua..  Yang di tinggal maut oleh suami tercinta, punya 5 orang anak laki-laki , 2 di antaranya, telah lebih dahulu menghadap ilahi. Yaitu anak pertama dan kedua, Anak yang ketiga ia hanya sibuk dengan harta dagangannya, anak serta istrinya, sehingga hanya sekali-kali ia menjenguk wanita tua tersebut dengan membawakan makanan dan membersihkan rumahnya termasuk semak-semak belukar yang ada di sekitar rumah wanita itu. Anak yang ke empat, ia adalah anak yg penyabar. Setiap malam ia selalu menemani wanita tua tersebut, sekalipun ia harus meninggalkan anak serta istrinya. Dalam keseharian ia selalu memasakkan nasi, merebuskan air, dan  membawakan makanan yang di masak sang istri untuk wanita tua tersebut, terkadang ia membawa anak-anaknya untuk bermalam di rumah wanita tua itu. Di kala pagi  tiba, ia membersihkan dan memandikan wanita tua tersebut, serta mencucikan pakaiannya dan menyuapi makananya. Ketika menjelang siang, ia pulang ke rumah istrinya mencari nafkah serta memenuhi kewajibanya sebagai seorang suami dan seorang ayah.  Sedangkan si bungsu, rumahnya hanya di batasi mesjid dari rumah wanita tua tersebut, tetapi ia hanya di sibukkan oleh harta, anak serta istrinya. Ia anak yang pembangkang, keras suara dan selalu menghabiskan harta wanita tua tersebut, dari segi isi kebun, sawah dan ladang ia yang paling menguasai karena rumahnya yang paling berdekatan dengan wanita tua tersebut. Sehingga hanya dia yang bisa di harap mengurusi harta wanita tua itu. Setiap sore si bungsu selalu menutupkan  jendela_jendela rumah wanita tua itu, dan menemaninya sampai anak yang ke empat datang. Semakin hari semakin tak berdaya, hingga tahun berganti tahun  wanita itu hanya mampu tidur dan berbaring dalam sakitnya di masa tua. Hari semakin hari sakitnya pun semakin parah. Hingga, waktu itu senin malam, wanita tua itu menghadapi syakharatul maut. Dan mendapati ajalnya menjelang subuh.. ketiga bersaudara tersebut berkumpul di sertai anak, istri, tetangga dan dusanak terdekat mereka. Saat itu anak kempat sangat-sangat terpukul, ibunda tercinta telah pergi menghadap ilahi.. Tau kah kalian siapa anak yang ke empat tersebut? Dia adalah ayahku.... Itulah kali pertama aku melihat ayah meneteskan air mata.  Sewaktu nenek masih hidup, aku pernah bertanya, Ayaah.. Kenapa setiap malam ayah harus ketempat nenek? Bukankah ada saudara-saudara ayah yang sekali-kali apa salahnya mereka menggantikan ayah menemani nenek. Ayah hanya berkata. "Begitulah cara ayah memperoleh berkah hidup dari nenekmu".  Dialah ayahku. Yang mencintai nenek sepanjang hidupnya, menyayangi nenek hingga maut menjemput yang tak pernah sekalipun ayah berkata kasar terhadapnya..

Ketika aku sering berselisih paham dengan saudara-saudaraku,  ayah hanya berkata, ayah sekarang tinggal bertiga bersaudara, sekalipun ayah tidak suka dengan sikap saudara-saudara ayah, ayah hanya diam. Jarang sekali kami bertengkar sedari kecil. Kenapa anak ayah tak seperti ayah dan saudara-saudara ayah? Tak kah kalian memperhatikan bagaimana kami saling berintraksi, menghargai walau diam adalah cara menunjukkan ketidak sukaan!
Sekarang kekasihku adalah orang yang nasibnya hampir sama betul dengan ayah. Ia adalah Muhammad Iqbal Mayudi, anak kedua dari 5 orang bersaudara dan mereka lelaki semua. Dari kisah ayah  Aku hanya berharap semoga kekasihku yang akan menjadi suami ku kelak, adalah orang yang persis sama seperti ayah, yang mencintai 2 wanitanya sepenuh hati jiwa dan raga. Yaitu ibu dan nenek, dan kami adalah bukti buah cinta mereka. :) 
 
salam manis di malam ini
 
By Aisyah  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar