Selasa, 04 November 2014

PROBLEMATIKA DAKWAH DI INDONESIA


KATA PENGANTAR
Dakwah memerlukan kekuatan ekstra, tidak hanya mengajak dan berbicara saja tetapi lebih dari itu. Mengontrol atau mengevaluasi hasil dakwah adalah suatu masalah yang sangat penting dan urgnen dari tujuan dakwah itu sendiri.
Problematika dakwah sudah menjadi ’makanan sehari-hari’ bagi pendakwah, kadangkala permasalahan itu timbul sebelum proses dakwah, selama proses atau sesudah dakwah itu dilakukan. Tidak dapat dipungkiri, penyebaran agama islam pada zaman sekarang adalah pewujudan dari dakwah orang-orang alim sebelum kita.
Demikian kata pengantar dari pemakalah, kritik dan saran dari pembaca sangat dibutuhkan. Atas segala bentuk kesalahan pemakalah mohon maaf.



PENDAHULUAN
Problematika dakwah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari abad ke abad, tentu sangat variatif. Tiap-tiap masa dan era memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Karena itu, dinamika agama (Islam) di manapun ia berada sangat ditentukan oleh gerakan-gerakan dakwah yang dilakukan oleh umatnya. Pada pembahasan kali ini pemakalah mencoba  membahas bagaimana problematika dakwah yang ada di Indonesia dan strategi apa yang harus li lakukan da’I agar masalah yang timbul di tengah-tengah masyarakat Indonesia dapat di atasi. Dan tegaknya amar ma’ruf nahi munkar. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana problematika dakwah yang ada di Indonesia, mari sama-sama kita simak makalah berikut ini


PROBLEMATIKA DAKWAH DI INDONESIA

A. Pengertian Problematika dan Dakwah
Problematika berasal dari kata problem yang artinya soal, masalah, perkara sulit, persoalan. Problematika sendiri secara leksikal mempunyai arti: berbagai problem.
Pengertian dakwah menurut bahasa; dakwah berasal dari bahasa Arab yakni دعايدعوا دعوة (da’a - yad’u - da'watan). Kata dakwah tersebut merupakan ism masdar dari kata da’a yang dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai “ajakan kepada Islam. Kata da’a dalam al-Quran, terulang sebanyak 5 kali, sedangkan kata yad’u terulang sebanyak 8 kali dan kata dakwah terulang sebanyak 4 kali.
pengertian problematika dakwah menurut istilah adalah permasalahan yang muncul dalam menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu, dengan proses yang ditangani oleh para pengembang dakwah. Hal ini dikarenakan Islam adalah dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah dan mengentaskan segala permasalahan yang timbul di masyarakat indonesia.
B. Permasalahan Dalam Dakwah
1.      Problematika Dakwah di Indonesia.
            Dakwah merupakan kewajiban dan tugas setiap individu. Hanya dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi di lapangan. Jadi pada dasarnya setiap muslim wajib melaksanakan dakwah Islamiyah, karena merupakan tugas ‘ubudiyah dan bukti keikhlasan kepada Allah SWT

Benruk-bentuk problematika dakwah yang ada di Indonesia:
. 1. Problematika Dakwah Perspektif Materi:
a.      Disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat
b.       Disesuaikan dengan kadar intelektual masyarakat
c.       Mencakup ajaran Islam secara kaffah dan universal yakni aspek ajaran tentang hidup dan kehidupan
d.      Merespon dan menyentuh tantangan dan kebutuhan asasi dan kebutuhan sekunder
e.       Disesuaikan dengan program umum syariat Islam
f.        Adanya sumber kekuatan. Dimanakah sumber kekuatan dakwah? Sebenarnya, kekuatan bermula dari kekuatan Iman, kemudian diikuti oleh kekuatan Ukhuwah Islamiyah, kemudian barulah diikuti dengan kekuatan material dan organisasi.
g.      Wasilah-wasilah (jalan-jalan kerja) dakwah "Wasilah di dalam pembinaan dan pengukuhan setiap dakwah dapat dikenali oleh siapa saja yang mengkaji sejarah jamaah. Intisari dari wasilah ini dapat disimpulkan sebagai berikut: Iman dan Amal, Kasih sayang, dan Persaudaraan"
h.      Berangsur-angsur (tadarruj) di dalam langkah kerja Maksud tadarruj adalah kitatidak tergesa-gesa dalam bekerja mencapai tujuan. Segala amal harus disusun dan direncanakan mengikuti tingakatan-tingkatan atau tahap-tahap yang ditentukan. Misalnya, upaya pembentukan harus didahulukan daripada upaya-upaya lain di dalam medan yang lebih berat dan menantang. "Perlu adanya kesungguhan dan amal, serta usaha pembinaan (takwin) setelah kita melaksanakan upaya penjelasan kepada masyarakat umum. Kemudian diikuti dengan upaya pengasasan setelah kita melasanakan usaha mendidik"
i.        Kesempurnaan di dalam pelaksanaan (Takamul fi tatbiq). Imam Al-Banna menyebutkan bahwa dakwah Islamiah bukanlah partai politik, namun penegakan hukum Allah adalah salah satu tugas kita. Dakwah bukan pula satu mazhab fiqih, kuliah syara, atau institusi fatwa, namun lebih mementingkan syari'ah. Demikian pula, dakwah bukan lembaga sosial, tetapi kita mementingkan problematika menjaga kebajikan masyarakat.
j.        Adanya evaluasi dalam berdakwah baik dalam penyampaian materi ataupun yang lainnya.

2.      Problematika Dakwah Perspektif Metodologi
Ada beberapa rancangan dakwah yang dapat dilakukan untuk menjawab problematika dewasa ini, yaitu:
a)      Memfokuskan aktivitas dakwah untuk mengentaskan kemiskinan umat.
b)      Menyiapkan elit strategis Muslim untuk disuplai ke berbagai jalur kepemimpinan bangsa sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
c)       Membuat peta sosial umat sebagai informasi awal bagi pengembangan dakwah
d)      Mengintregasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya dalam berbagai perencanaan dakwah
e)      Mendirikan pusat-pusat studi dan informasi umat secara lebih propesional dan berorientasi pada kemajuan iptek
f)       Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan: ekonomi, kesehatan dan kebudayaan umat Islam. Karenanya, sistem manajemen kemasjidan perlu ditingkatkan
g)      Menjadikan sebagai pelopor yang propertis, humanis, dan transpormatif. Karenanya perlu dirumuskan pendekatan-pendekatan dakwah yang progkresif dan inklusif. Dakwah Islam tidak boleh hanya dijadikan sebagai objek dan alat legitimasi bagi pembangunan yang semata-mata bersifat ekonomis-pragmatis berdasarkan kepentingan sesaat para penguasa.

3.      Problematika Dakwah Perspektif Profesionalisme
Dinamisasi kehidupan global yang semakin tinggi dan kompetitif telah mengiringumat manusia senantiasa memandang problematika hidup secara pragmatis, logis, serba instan,dan bahkan matematis. Keadaan demikian di samping membawa manfaat berupa kemajuanilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin memudahkan aktifitas manusia, juga telah membawa implikasi negatif berupa lemahnya semangat transendental dan memudarnyahubungan-hubungan sosial. Implikasi ini berlangsung demikian lama, sehingga dewasa initelah melahirkan berbagai kenyataan sosial yang cukup bertentangan dengan cita-cita ideal Islam.

Problematika dakwah yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti:
1.      Perilaku dalam mendapatkan hiburan (entertain­ment).
2.       kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin membuka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika.
3.      Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan Internet, dan sebagainya.
Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu.



Jadi intinya problematika dakwah yaitu diantaranya:
1.        Problematika internal maupun eksternal
2.        Kerawanan moral dan etika
3.        Kemaksiatan yang mengalamai peningkatan kualitas dan kuantitas
4.        Meledaknya informasi dan kemajuan teknologi
5.        Banyak yang terbuai oleh kemewahan hidup
6.        Kelemahan (sumber daya manusia) dalam berbagai bidang ilmu
Penyampaian dakwah Islamiyah haruslah disempurnakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga cahaya hidayah Allah SWT tidak terputus sepanjang masa. Para rasul dan nabi adalah tokoh – tokoh dakwah yang paling terkemuka dalam sejarah umat manusia, karena mereka dibekali wahyu dan tuntunan yang sempurna.
agar problematika dakwah tidak semakin kusut dan berlarut – larut, perlu segera dicarikan jalan keluar dari kemelut persoalan yang dihadapi itu.yaitu:
1.      Perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru – juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu – ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
2.      setiap organisasi islam yang berminat dalam tugas – tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “labda” ini akan dapat diketahui masalah – masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
3.      Proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik) biliqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions, speak louder than word.
4.      Media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang  juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat islam. Bila udara indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan – pesan agama lain dan sepi dari pesan – pesan islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah islam di tanah air.
5.      merebut remaja indonesia adalah tugas dakwah islam jangka panjang. Anak – anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat invasi nilai – nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas islam di indonesia. Bila anak – anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh (al-hususn al-hamidiyyah) dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria. Menyimak uraian – uraian di atas, dapat diprediksi bahwa missi dan tantangan dakwah tidaklah pernah akan semakin ringan, melainkan akan semakin berat dan hebat bahkan semakin kompleks dan melelehkan. Inilah problematika dakwah kita masa kini.
4.      Metode Dakwah
Dengan banyaknya permasalah yang muncul di tengah masyarakat tentu harus ada metode yang efetif yang di lakukan oleh dai. Metode dakwah adalah cara mencapai tujuan dakwah, untuk mendapatkan gambaran tentang prinsip – prinsip metode dakwah, dapat kita lihat metode apa saja yng harus di pakai oleh da’I untuk mengantisipasi munculnya peramasalah dakwah, yaitu:
a.       Metode hikmah menurut Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa hikmah yaitu; Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.
b.      Metode mau’izah khasanah menurut Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan fahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.
c.        Metode mujadalah dengan sebaik – baiknya berdakwah.
Nabi Muhammad Saw bersabda: “Siapa di antara kamu melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan yang terakhir inilah selemah-lemah iman.” [ H.R. Muslim].
Dari hadis tersebut terdapat tiga tahapan metode yaitu;
1.      Metode dengan tangan [bilyadi], tangan di sini bisa difahami secara tektual ini terkait dengan bentuk kemunkaran yang dihadapi, tetapi juga tangan bisa difahami dengan kekuasaan atau power, dan metode dengan kekuasaan sangat efektif bila dilakukan oleh penguasa yang berjiwa dakwah.
2.      Metode dakwah dengan lisan [bil-lisan], maksudnya dengan kata – kata yang lemah lembut, yang dapat difahami oleh mad’u, bukan Metode dakwah dengan hati [bil-qolb], yang dimaksud dengan metode dakwah dengan hati adalah dalam berdakwah hati tetap ikhlas, dan tetap mencintai mad’u dengan tulus, apabila suatu saat mad’u atau objek dakwah menolak pesan dakwah yang disampaikan, mencemooh, mengejek bahkan mungkin memusuhi dan membenci da’i atau muballigh, maka hati da’i tetap sabar, tidak boleh membalas dengan kebencian, tetapi sebaliknya tetap mencintai objek, dan dengan ikhlas hati da’i hendaknya mendo’akan objek supaya mendapatkan hidayah dari Allah SWT.. Selain dari metode tersebut,
3.      Metode bil uswatun hasanah, yaitu dengan memberi contoh prilaku yang dengan kata – kata yang keras dan menyakitkan hati.
4.      baik dalam segala hal. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW. Hanya ditentukan oleh akhlaq belia yang sangat mulia yang dibuktikan dalam realitas kehidupan sehari – hari oleh masyarakat. Seorang muballigh harus menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehar – hari.

C.     STRATEGI PEMECAHAN MASALAH DAKWAH
Tidak asing lagi, akhirnya di negeri yang berbudaya, beradat dan beragama ini, kemaksiatan yang berhubungan dengan apa yang dinamakan sex industry juga mengalami kemajuan, terutama setelah terbukanya turisme internasional di berbagai kawasan, hingga menjamah wilayah yang semakin luas dan menjarah semakin banyak generasi muda dan remaja yang kehilangan jati diri dan miskin iman dan ilmu. Hal yang terakhir ini semakin buruk dan mencemaskan perkembangannya karena hampir-hampir tidak ada lagi batas antara kota dan desa, semuanya telah terkontaminasi dalam eforia kebebasan yang tak kenal batas.
Ledakan-ledakan informasi dan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang itu tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Kita harus berusaha mencegah dan mengantisipasi dengan memperkuat benteng pertahanan aqidah yang berpadukan ilmu dan teknologi. Tidak sedikit korban yang berjatuhan yang membuat kemuliaan Islam semakin terancam dan masa depan generasi muda semakin suram. Dapat kita pakai stategi pemecahan masalah dakwah dengan:
1.      Pendalaman keilmuan Islam harus lebih ditingkatkan
2.      Pemberian materi baru lebih selektif
3.      Jumlah kuantitas tidak menjadi ukuran pendanaan
4.      Dakwah, bukan sekedar ajakan kejalan yang lurus,
5.      Targetnya jelas dan konkrit
6.      Hasil yang jelas.











PENUTUP

A.    Kesimpulan
Melihat problematika umat islam saat ini tentunya sangat miris sekali. Banyak umat islam yang buta huruf al-qur’an, sekulerisma, kultus, tidak percaya akhirat dll. Hal ini seharusnya membuat kita lebih responsip dalam urusan agama. Kita sebagai mahasiswa apalagi mahasiswa jurusan manajemen dakwah seharusnya menjadika problem ini sebagai PR atau tugas yang harus kita selesaikan. Secara tidak l;angsung mereka (umat islam) sangat menanti-nanti uluran atau sumbangsih kita.
Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan petunjuk agar kita tidak salah pilih dan tidak terlambat, insya Allah

B.    Kritik dan saran
            Dengan kerendahan hati penulis, penulis sadar bahwa dalam makalah inimasih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu saran dan keritik yang bersifatmembangun dari pembaca, penulis harapkan demi kesempurnaan makalah-makalahdimasa-masa yang akan datang.



DAFTAR KEPUSAKAAN

Enjang, Aliyudin, Dasar-Dasar Ilmu Dakwah, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009
Ilahi Wahyu, Hefni Harjani, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana, 2007
Yahya Toha, Islam Dan Dakwah, Jakarta: Zakia Islami Pers, 2004
Aripudin Acep, Pengembangan Metode Dakwah, Jakarta: Rajawali Pers, 2011
Mustafa Ali, Sejarah Dan Metode Dakwah Nabi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar