Selasa, 04 November 2014

ANALISIS MASALAH KLIEN DENGAN TEORI KONSELING PSIKOANALISIS KLASIK (KOPSAK) DAN KONEGO


ANALISIS MASALAH KLIEN DENGAN TEORI KONSELING PSIKOANALISIS KLASIK (KOPSAK) DAN KONEGO
I.         PENDAHULUAN
Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi, berorientasi untuk berusaha membantu individu untuk mengatasi ketegangan psikis yang bersumber pada rasa cemas dan rasa terancam yang berlebih-lebihan (anxiety) sehingga menganggu dalam proses perkembangan individu. Psikoanalisis klasik ini merupakan sebuah teori yang ditemukan oleh Sigmund Freud pakar psikologi yang merupakan pijakan awal bagi terbentuknya teori-teori baru yang semua merupakan berasal dari dasar, pendalaman, kritik dan saran bagi teori ini

II.      DESKRIPSI KASUS
a.      Kelakuan Klien Sulit dalam Berinteraksi
Klien adalah seorang mahasiswa yang tergolong pintar dan memiliki potensi. Di dalam aktivitas perkuliahan di kampus  klien memperoleh yang bisa dibilang rata-rata, dia seorang anak yang cukup rajin, baik itu dalam mengikuti perkuliahan sehari-hari maupun dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah yang di berikan oleh dosen. Klien berasal dari keluarga yang memiliki ekonomi pas-pasan dan berkecukupan. Didalam keluarga klien ini merpakan yang paling tua (anak sulung) dari empat bersaudara, dia masih memiliki kedua orang tuanya, dalam pandangan orang-orang disekitar lingkungan tempat tinggalnya ia adalah anak yang tergolong baik, tidak memiliki banyak khasus dan mudah diterima oleh teman-temannya. Namun, ada satu masalah yang ia hadapi, yaitu ia sangat sulit dalam  berinteraksi baik itu dengan orang tuanya maupun dengan teman-temannya dikampus. Akibat dari keterbatasan berinteraksi, ia pun sulit untuk bisa  bergaul dengan teman-temannya. Ini terlihat, setelah satu tahun menjalani perkuliahan di tempat kuliahnya klien belum memiliki banyak teman, ia tidak memiliki  teman yang betul-betul dekat dengan dirinya.  Maka, dari itu permasalahan ini akan dianalisis  dengan menggunakan teori Konseling psiko analisis klasik bagaimana pandangam teori ini tentang kepribadian diri  klien yang  bermasalah, apa yang menyebabkan tingkah laku salahsuainya, dan bagaimana teknik mengetaskannya.

b.      Teori konseling psikoanalisis klasik
Psikoanalisis diciptakan oleh Freud pada tahun 1986. psikoanalisis terdiri dari dua kata yaitu psiko dan analisis, secara etimologis psiko artinya psikis atau disebut juga dengan jiwa. Berarti psikoanalisis dapat diartikan dengan analisa jiwa. Hal yang ditinjau dari psikoanalisis klasik secara mendalam adalah psikis manusia, dimana tidak hanya meninjau tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga melihat dasar-dasar atau latar belakang munculnya tingkah laku tersebut. psikoanalisis klasik sering juga disebut dengan psikologi dalam (dept psychology). Psikoanalisis merupakan suatu tinjauan tentang manusia, dimana ketidak sadaran memiliki peranan penting dalam memahami kepribadian dan tingkah laku manusia.

III.   KASUS, TINGKAH LAKU SALAH SUAI DAN TEKNIK
Psikoanalisis ini menekankan bahwa perkembangan kepribadian didasarkan pada bagaimana berlangsungnya kehidupan individu semasa balita. Terjadinya penyimpangan karena terjadinya traumatis, frustasi, konflik dan terancam pada masa balitanya. Teori ini lebih layak mengemukakan tahap perkembangan psikoseksual sampai menjadi individu dewasa. Adapun tahap-tahap perkembangan psikoseksual menurut Freud (dalam Taufik, 2009).
1.      Tahap Oral
Oral berarti mulut, dimana kepuasan balita adalah diperoleh melalui mulut. Hal ini akibat dari menghisap payudara ibu, sehingga anak mendapatkan kepuasan sehingga menimbulkan kenikmatan. Hal ini terjadi pada umur 0 sampai 1 tahun. Namun bila hal tersebut tidak terpenuhi maka akan menimbulkan sifat rakus dan serakah. Akibat lain adalah tumbuhnya sikap tidak percaya pada orang lain dan menganggap dunia kejam, dan selanjutnya menjadi takut mencintai dan dicintai orang lain, dan setelah dewasa akan mengalami kesulitan membangun hubungan yang intim dengan orang dan cenderung menolak kasih sayang.
2.      Tahap Anal
Anal artinya anus. Tahap ini berlangsung pada umur 1 sampai 2 tahun. Pada tahap ini pemenuhan kenikmatan terletak pada anus melalui buang air besar pada anak. Freud berpendapat bahwa peranan orang tua pada tahap ini mempunyai akibat yang berarti bagi perkembangan anak selanjutnya. Orang tua yang amat keras dan menghukum anak pada masa ini akan dapat menimbulkan sikap ragu-ragu setelah mereka menjadi dewasa.
3.      Tahap Phallic
Phallic artinya kelamin. Pada tahap ini pusat perhatian anak adalah pada kelamin. Tahap ini identitas pribadi anak telah terbentuk. Anak laki-laki telah mengetahui bahwa ia memiliki penis dan anak perempuan tidak memiliki. Tahap phallic ini berlangsung pada umur 3 sampai 5/6 tahun.
4.      Tahap Laten
Laten artinya tersembunyi. Pada tahap perkembangan seksual masih berlangsung, namun tidak begitu nampak. Tahap ini berlangsung pada umur 13 tahun. Pada tahap ini berkurangnya minat terhadap seksualitas dan cenderung berminat pada pergaulan dengan orang lain. Pada masa ini akan terbentuk rasa malu dan aspirasi moril serta estetis.
5.      Tahap Genital
Genital artinya organ kelamin, objek seksual anak kembali terarah pada organ kelamin. Pada tahap ini objek seksualitasnya tidak tertuju lagi pada diri sendiri, namun telah tertuju pada orang lain.

IV.   KASUS
1.      Masalah-masalah klie sebahagian besar adalah berkenaan dengan prose belajar.
2.      Kepribadian manusia terdiri dari kebiasaan positif dan negative.
3.      Kebiasaan yang tidak cocok dengan lingkungan terbentuk dengan proses melalui proses penguatan belajar.
4.      Perbedaan anatara tingkah laku normal dan salah suai tidak tereletak pada bagaimana tingkah laku - tingkah laku itu dipelajar, melainkan pada tinngkat kesesuaian terhadap tuntutan lingkungan.
5.      Konseling psioanalisi klasik sangat memperhatikan pola-pola tingkah laku yang tampak yang menyebabkan individu mengalami kesulitan

V.                TINGKAH LAKU SALAH SUAI (TLSS)
disebabkan oleh kekacauan dalam fungsinya individu:
a.       Dinamika yang tidak efektif antara IDES
b.      Proses belajar yang tidak benar pada masa anak-anak.

VI.   TEKNIK
a.       Membangun suasana bebas tekanan. Dalam suasana bebas ini klien menelusuri apa yang tepat dan yang tidak tepat pada dirinya (tingkah lakunya) dan mengarahkan diri membangun tingkah laku baru.
b.      Teknik dasar
1.      Asosiasi bebas (asbas): memberikan kesempatan sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya kepada klien untuk mengemukakan atau mengungkapkan apa yang dirasa, terfikirkan, teringat yang ada pada dirinya.
2.      Transferensi (trans): mengarahkan perasaan-perasaannya (t=yang tertekan) pada konselor dengan mengandaikan konselor itu sebagai yang menyebabkan perasaan tertekan.
3.      Interpretasi: membawa klien memahami dan menghadapi dunia nyata, melalui pemikiran yang objektif untuk memperkuat fungsi ego.

VII.     TUJUAN KONSELING DAN TEKNIK KONSELING
Tujuan konseling pendekatan psikoanalisis klasik adalah:
1.      Menjadikan hal-hal yang tidak disadari klien menjadi disadarinya.
2.      Menata kembali struktur watak dan kepribadian klien.
3.      Konselor dapat membantu klien untuk menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanaknya dengan menembus konflik yang direpresi.
4.      Merasionalkan kesan itu sehingga klien menyadari bahwa kesan yang dibawanya tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
5.      Khatarsis, yaitu usaha pelepasan kesan-kesan yang selalu mendesak dari bawah sadar klien.
6.      Membawa ke ksad dorongan yang ditekan yang mengakibatkan kecemasan.
7.      Memberikan kesempatan kepada klien menghadapi situasi yang selama ini ia gagal mengatasinya.

Jika kita kaitkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh klien, tentu konseling ini memiliki tujuan untuk merubah cara belajar klien terhadap lingkungan selama ini. Jika sebelumnya klien mengalami proses pembelajaran yang tidak baik dalam kesehariannya dengan diperlakukan terlalu keras oleh orang tuannya tentunya ini harus dirubah dan tidak bisa diteruskan lagi. Klien diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri disaat dia salah, dengan mendiskusikan secara bijaksana terkait dengan masalahnya, dengan demikian akan menimbulkan kreatifitas berpikir dan kemudahan didalam berinteraksi pada diri klien. Jika ini dilakukan secar berulang-ulang ini akan menjadi kebiasaan pada diri klien, kebiasaan baik yang terjadi hasil dari penguatan yang diberikan ini lah yang disebut sebagai Reinforcement positif

VIII.       KEKUATAN DAN KELEMAHAN KOPSAK
1.      Kekuatan
Mampu memberikan rasa percaya diri pad aklien, memahami ambang kesadaran dan ketaksadaran, menjadikan masa lalu pelajaran buat klien.
2.      Kelemahan
Terlalu mengutamakan libido, terlalu berasumsi pada masa lampau tanpa memandang sedikitpun masa depan.

IX.   KOPSAK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

            Dalam firman Allah di QS. ArRa’du ayat 11 adalah:

Artinya:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri dan apabila Allah mengehndaki keburukan terhadap sesuatu kaum. Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Maksudnya adalah Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia memegang nasibnya sendiri sesuai dengan ayat di atas. Jika dihubungkan dengan teori kopsak ini dapat diterima.
Dalam hadits nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa “setiap bayi dalam keadaan fitrah (suci dalam posisi Islam), orang tuanyalah yang membuatnya yahudi, nasrani dan majusi” (HR. Buchori).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh pengalaman-pengalaman masa lampau. Ini sesuai dengan teori kopsak, karena orang tuanyalah yang akan memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya, agar anaknya bisa bertingkah laku baik pula


ANALISIS MASALAH KLIEN DENGAN TEORI KONSELING EGO (KONEGO)
I.     PENDAHULUAN
            Erikson, salah seorang murid dari Sigmund Freud telah menemukan model konseling yang menekankan pada kekuatan ego yang lebih dikenal dengan “ego strength”. Model konseling ini dikenal dengan istilah konseling ego. Dalam konseling ego ditemukan bahwa orang yang bermasalah merupakan orang yang memiliki ego yang lemah, sehingga konselor berperan untuk memperkuat ego pada seseorang.

II.      DESKRIPSI KASUS
1.      Pandangan Tentang Kepribadian
a.      Perkembangan kepribadian merupakan fungsi dari kebutuhan individu belajar untuk memenuhi kebutuhannya. Jika terpenuhi dengan baik disebut berfungsi secara tepat (responsible/success identity )
b.      SI (success identity) berkembang melalui hubungan yang mesra dengan orang tua yang bertanggung jawab. Orang tua ini memilihara dengan cinta, pengajaran, disiplin, dan teladan yang baik.
c.       Syarat pada diri anak untuk mengembangkan SI-nya yaitu merasa dicintaidan berguna.
d.      Dasar-dasar SI ada tiga yaitu
1.      Right : normanorma yang berlaku
2.      Responsibility : kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi  tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan orang lain.
3.      Reality : acuan nyata bagi pemenuhan kebutuhan pribadi.

2.      Kasus
1.      Apabila individu tertekan oleh keadaan yang menimpanya dan ego kehilangan control, maka control terhadap tingkah laku beralih dari kesalahan ke ketidak sadaran (control beralih dari ego ke id).
2.      Ego yang kurang kuat yang disebabkan oleh:
a.       Individu kurang mampu merespon dengan cara yang layak
b.      Pola tingkah yang dimiliki tidak lagi contoh dengan tuntunan situasi (lingkungan).
c.       Rusaknya fungsi ego.
3.      Individu abnormal adalah individu yang tingkah lakunya tidak berubah dalammenghadapi tuntunan diri sendiri ataupun lingkungan yang telah berubah.

Kasus ini tergambar dari sebuah hadits berikut ini:
Artinya: Abu Hurairah RA berkata: Nabi SAW besabda: Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman. Dan tidak akan minum khamar, di waktu minum jika ia sedang beriman. Dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika sedang beriman. Dilain riwayat: Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman” (Bukhari, Muslim).

Apabila seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhannya, ia akan kehilangan hubungan dengan  kenyataan, persepsinya terhadap kenyataan menjadi kacau.
Penyebabnya yaitu kegagalan orang tua, guru, sekolah memenuhi kebutuhan cinta anak mereka, tidak pernah belajar bertingkah laku secara bertanggung jawab serta kegagalan individu memperoleh hubungan yang baik dengan orang-orang baginya amat penting

III.   TEORI KONSELING EGO
Asumsi Erikson tentang Hakikat Manusia dalam Konseling ego, adalah:
  1. Manusia tidak sekedar terikat pada dorongan instinknya, melainkan dipengaruhi oleh lingkungannya.
  2. Mengutamakan fungsi ego yang merupakan energi psikologis individu meskipun masih mengakui id dan super ego.

Dalam pandangan Islam, menusia merupakan makhluk yang tercipta paling sempurna. Manusia memiliki dimensi fisik dan psikis yang meliputi ruh, nafs dan qalb. Mengamati asumsi Erikson tentang hakikat manusia, Islam memiliki pandangan yang sama bahwa manusia lahir tidak sekedar terikat pada dorongan instingnya saja tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:
“tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (suci membawa posisi Islam). Orang tuanyalah yang membuat ia yahudi (jika mereka Yahudi), nasrani (jika mereka nasrani) ataupun majusi (jika mereka majusi)”. (HR. Bukhari)

            Nabi menyatakan bahwa setiap manusia terlahir dalam fitrah beragama yang suci. Namun orang tua sebagai orang yang pertama yang ada dilingkungan individu tersebut juga berpengaruh dalam membentuk kepribadian individu. Dalam hal ini terlihat bahwa manusia tidak hanya terikat dengan dorongan instinknya, namun  juga dipengaruhi oleh lingkungannya.
            Asumsi Erikson tentang hakekat manusia yang kedua adalah bahwa manusia mengutamakan fungsi ego. Dalam Islam juga dijelaskan bahwa manusia juga sangat menekankan ego yang terkandung dalam dirinya sehingga sedikit sekali manusia yang mau bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Banyak manusia yang lupa bahwa segala yang dimilikinya adalah pemberian karena ia lebih menekankan kekuatan ego (ke’aku”an) yang ada pada dirinya. 


Firman Allah dalam QS. As-Sajadah ayat 9:
Artinya:
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur
1.      Pandangan Tentang Manusia
1.      Manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat secara rasional ataupun tidak rasional
2.      Berpikir dan merasa itu sangat dekat bergandengan antara satu dengan yang lainnya.
3.      Apa yang dipikirkan dan dirasakan sekaligus mengambil bentuk self-talk (ST) yang selanjutnya menyerahkan individu bertindak rasional atau tidak rasional.
2.      Pandangan Tentang Kepribadian (perkembangan dan tingkahlakunya)
1.      Perkembangan kepribadian manusia yaitu ia tercipta untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri, kemampuan untuk self-destructive (SD), hedonis, buta dan menolak aktualisasi diri.
2.      Tingkah laku berkenaan dengan suatu kejadian atau peristiwa  (A) yang diikuti oleh perasaan tidak enak (P) individu memiliki dua kemungkinan (B) berpikir rasional atau tidak rasional.
3.      Kasus (tingkah laku salah suai)
1.      Permaslahan emosional hamper selalu terkait dengan perhatian individu yang selalu besar terhadap apa yang dikatan orang lain kepadanya.
2.      Individu mengalami perasaan tidak enak (sebagai akibat dari peristiwa), ia dapat rasional juga dapat tidak rasional.
3.      Irrational belief (IB) mecekam individu
4.      IB sering mendapat penguatan sepanjan perkembangan individu (oleh orang tua, sekolah, anggota masyarakat, da lembaga-lembaga)

III.  Perkembangan Psikososial (Erikson)
1.      Trust (0-1 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai dengan sifat percaya. Jika anak memperoleh kasih sayang cukup dari orang tuanya  dan kebutuhan terpenuhi dengan baik. Perkembangan yang gagal jika pada masa ini anak sering diterlantarkan dan dikasari oleh orang tua, maka dalam dirinya akan berkembang sikap tidak percaya. 

Teori ini sesuai dengan Surat Al-Baqarah ayat 233:

Artinya:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupan, janganlah seorang ibu menderita kesengseraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian, apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya, dan jika kamu

2.      Autonomy (1-3 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai oleh adanya otonomi, sedangkan perkembangan yang gagal ditandai oleh adanya perasaan ragu-ragu dan malu. Pada usia ini anak perlu mendapat kesempatan untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahannya itu. Jika orang tua terlalu berbuat banyak untuk kepentingan anak, hal ini dapat menghambat otonomi dan merusak kemampuan mereka untuk menghadapi dunia secara berhasil. Sikap orang tua yang cenderung melarang, memarahi, dan menyesali perbuatan anaknya akan menumbuh kembangkan perasaan ragu-ragu dan malu baik pada masa sekarang maupun pada tahap perkembangan selanjutnya.
Teori ini sesuai dengan hadits berikut:
“Bantulah anak-anakmu agar bisa berbuat kebaikan dan tidak menyusahkan, dan berlaku adillah dalam memberikan sesuatu kepada mereka. Kalau mau, orang bisa membuat anak-anaknya selalu berbakti kepadanya” (HR. Ath-Thabrani).
3.      Initiative (3-5 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai oleh adanya inisiatif. Sedangkan perkembangan yang gagal ditandai dengan adanya perasaan bersalah. Menurut Erikson tugas individu pada masa ini adalah membentuk rasa memiliki kemampuan dan inisiatif. Sikap yang sebaiknya diambil oleh orangtua dalam mendidik adalah senantiasa memberikan kesempatan kepada anak untuk beraktualisasi diri dengan berbagai percobaan yang ingin mereka lakukan dan jika perlu merangsang mereka untuk melakukan berbagai jenis percobaan walau menunjukkan hasil yang minimal.

Hadits tentang inisiatif:
“Aisyah berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW. Berdir di depan pintu kamarku, semengtara orang-orang Habasyah sedang asyik bermain agar di halaman mesjid Rasulullah SAW, beliau menggendong aku hanya dengan kain selendangnya supaya aku bisa menonton permainan mereka, kemudian berdiri supaya aku lebih leluasa melihat, aku ini orang gadis yang masih suka bermain” (HR. Muslim)

4.      Industry (6-11 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai dengan “menghasilkan”, sedangkan perkembangan yang gagal ditandai dengan rasa rendah diri. Anak yang sukses menjalani perkembangannya sudah mau melakukan sesuatu, contohnya menyapu rumah, mengerjakan PR, dan membersihkan sepatu sendiri. Kewajiban melakukan hal tersebut menjadi ciri sukses yang disebut dengan mampu menghasilkan tanggung jawab. Sebaliknya anak yang kurang beruntung mengalami rendah diri, misalnya takut ke sekolah, takut bernyanyi, dan kecenderungan merajuk. Anak-anak pada tahap ini mempunyai tugas untuk membentuk nilai-nilai pribadi, melibatkan diri dalam kegiatan sosial, belajar menerima dan memahami orang lain. Kegagalan pada masa ini akan membentuk rasa ketidak mampuan sebagai orang dewasa kelak, dan tahap perkembangan selanjutnya akan mengarah negatif.
Teori ini sesuai dengan hadits berikut:
“Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika berusia 7 tahun dan pukulah mereka karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia 12 tahun” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim).

5.      Ego Identity (11-20 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai dengan kemampuan mengenal identitas dirinya sendiri. Perkembangan yang gagal ditandai dengan kebingungan baik dalam peran gender, bingung dengan keadaan diri dan cita-cita di masa depan. Menurut Erikson, krisis utama yang sering terjadi pada masa ini adalah krisis identitas yang berpengaruh terhadap perkembangan individu di masa dewasa. Remaja yang gagal dalam menentukan dirinya akan cenderung mengalami konflik peran, kehilangan tujuan dan arah hidupnya.

Ego identity dalam QS Al-Baqarah ayat 258:
 
Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan), ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan’, orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’ [164] Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, Maka terbitkanlah Dia dari Barat’, lalu terdo=iamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

6.      Intimacy (21-30 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai dengan adanya keintiman, sedangkan perkembangan yang gagal ditandai oleh isolasi. Intim yang dimaksud adalah memiliki kemampuan yang baik untuk akrab dengan orang lain dan tidak menyukai menyendiri. Perkembangan yang baik pada masa ini ditandai dengan adanya kematangan untuk memasuki lembaga perkawinan. Sebaliknya orang yang suka menyendiri sebenarnya ia sedang berada dalam kekacauan perkembangan. Ketidak percayaan terhadap orang lain serta ketidak beranian untuk bekerja sama membuat individu tersebut untuk mengurung diri, mengalami kesukaran dalam membina rumah tangga yang harmonis dan kesulitan bekerja bersama orang lain.

7.      Generality (30-55 tahun)
Perkembangan yang sukses ditandai dengan adanya keaktifan dalam berbagai bidang secara umum. Secara umum individu yang berada pada masa ini mampu melibatkan diri secara luas yang diwujudkan dalam bentuk kemampuan untuk mengasihi secara baik, bekerja baik, dan bersahabat. Inilah yang disebut dengan kedewasaan dan kematangan secara penuh. Individu yang sukses akan mampu berprestasi dengan baik pada bidang yang ditekuninya. Pada tahap ini sudah mencapai kematangan yang sempurna baik secara sosial, ekonomi, emosi dan intelektual.
8.      Integrity (55 tahun ke atas)
Perkembangan yang sukses ditandai dengan keterpaduan dan perkembangan yang gagal ditandai dengan keputus asaan. Sukses yang terpadu maksudnya apa yang dilakukannya sudah dapat dimaknainya dengan baik, misalnya jika sudah memiliki cucu, dia akan sayang pada cucu dan menantunya. Sebaliknya perkembangan yang gagal cenderung membenci menantu dan cucu serta banyak penyesalan.

IV.   EGO BERKEMBANG ATAS KEKUATANNYA SENDIRI, TIDAK TERGANTUNG PADA ENERGI ID
            Sesuai dengan QS. Ali Imran ayat 102:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

V.      PERTUMBUHAN EGO YANG NORMAL MERUPAKAN PERKEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI PADA ANAK:
1.      Diferensiasi
2.       Berkembang melalui hubungan dengan lingkungan
3.      Proses sosialisasi
4.      Copinh ability (CA) melalui:
a.       Pola-pola baru tingkah laku
b.      Usaha sadar yang akan

VI.   TIGA KATEGORI FUNGSI EGO
  1. Impulse economics yakni kemampuan menyalurkan ego pada hal yang berguna.
  2. Cognitive function yakni kemampuan ego untuk berfikir logis.
  3. Controling function yakni kemampuan ego memusatkan usaha untuk menyelesaikan tugas-tugas diganggu perasaan.









DAFTAR KEPUSTAKAAN
Hartono, dkk, 2012. Psikologi Konseling, Jakarta: Kencana.
Winkel, 2007. Pengantar Teori Konseling (Suatu Uraian Ringkas) Jakarta: Ghalia Indonesia.
Al-Qur’an dan Kumpulan Hadits.
Prayitno, Konseling Pancawaskita. Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Padang: Padang 1998.
Taufik, Model-Model Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan UNP Padang: Padang, 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar