Selasa, 24 Maret 2015

Pengantar Psikologi



PENGERTIAN  PSIKOLOGI, MANFAAT MEMPELAJARINYA SERTA HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU LAINNYA

A.    PENDAHULUAN
Berbicara tentang psikolgi tentu yang kita bahas adalah masalah jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dengan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah, yaitu perbuatan yang di timbulkan oleh proses belajar. Misalnya : insting, refleks, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati, maka mati pulalah nyawanya. Utuk mengetahui tentang gejala-gejala jiwa tersebut hendaknya kita harus lebih tau dulu apa itu psikologi, manfaat serta hubungan psikologi dengan ilmu lainnya. Yang akan kami paparkan pada pembahasan berikut.

B.     PENGERTIAN PSIKOLOGI
Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya, atau disebut dengan  ilmu jiwa.

Definisi Para Ahli Tentang psikologi yaitu;

a.       Menurut Dr. singgih dirgagunarsa
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku.
b.      Plato dan Aristoteles.
Psikologi ialah ilmu peng etahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.

c.       John Broadus Wasto
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan dan jawaban (respon)

d.      Wilhelm Wundt
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, dan kehendak.

e.       Woodworth dan Marquis.
Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.

f.       Knight dan Knigh.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari secara sistematis tentang pengalaman dan tingkah laku manusia dan hewan, normal dan abnormal, individu dan social.

g.      Hilgert.
Psikologi mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya.

h.      Ruch.
Psikologi mempelajari tentang manusia. Definisi ini terlalu meluas, yang paling tepat psikologi merupakan bagian dari ilmu-ilmu biologi dan ilmu sosial, yang saling melengkapi, dan saling berhubungan
.
i.        Clifford T.Morgan
 Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
j.        Edwin G.Boring and Herbert S.Langfeld.
Psikologi adalah studi tentang hakikat manusia.
k.      Garden Murphy.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
l.        Menurut Chaplin
psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai prilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organism dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan.

Dari pengertian psikologi diatas menunjukkan beragamnya pendapat para ahli psikologi. Tetapi dari semua itu bisa disimpulkan. Bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.


C.    MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI.
1.      Dengan mempelajari psikologi memunculkan sifat yang kreatif yang ada pada manusia  dan keinginan untuk selalu maju.
2.      Dengan mempelajari psikologi, orang akan mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku manusia.
3.      Untuk memahami diri kita sendiri dengan mempelajari psikologi sedikit banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya.
4.      Dengan mengetahui jiwanya dan memahami dirinya itu maka orang dapat menilai dirinya sendiri.
5.      Pengenalan dan pemahaman terhadap kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami kehidupan jiwa orang lain.
6.      Dengan bekal pengetahuan psikologi juga dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita dapat mengetahui apakah tingkah laku seseorang itu sesuai tidak dengan tingkat kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.
7.      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman.
8.      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi.
9.      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran

D.    HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU LAINNYA
Hubungan psikologi dengan ilmu-ilmu lain adalah psikologi sebagai ilmu yang meneropong atau mempelajari keadaan manusia, sudah pasti psikologi memiliki hubungan dengan ilmu-ilmu lain yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia.
Berikut hubungan psikologi dengan beberapa ilmu pengetahuan :
1.      Hubungan psikologi dengan biologi
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Semua benda yang hidup menjadi objek dari biologi. Oleh karena biologi berobyekkan benda-benda yang hidup,maka cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung di dalamnya. Oleh karena itu baik biologi maupun psikologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu itu meninjau dari sudut pandang yang berbeda namun pada segi-segi yang tertentu kadang-kadang kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan.Ada hal-hal yang sama-sama dipelajari atau diperbincangkan oleh kedua ilmu ini,seperti masalah keturunan.Baik psikologi maupun antropobiologi juga membicarakan hal ini.
Ditinjau dari segi biologi ialah hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Keturunan juga dipelajari dalam psikologi misalnya sifat,intelegensi, bakat. Karena itu,kurang sempurnalah mempelajari mempelajari psikologi tanpa biologi. 

2.      Hubungan psikologi dengan sosiologi
Manusia sebagai makhluk social juga menjadi objek dari sosiologi. Soiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia,mempelajari manusia tentang bagaimana hidup bermasyarakat.Karena itu baik psikologi maupun sosiologi sama-sama membicarakan manusia. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakat,sedangkan tinjauan psikologi adalah tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan,yang didorong oleh motif tertentu hingga manusia bertingkah laku dan berbuat.

3.      Hubungan psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam membuat psikologi dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat;walaupun metode ilmu pengetahuan kurang dapat digunakan seluruhnya terhadap psikologi,karena perbedaan dalam obyeknya. Ilmu pengetahuan alam berobyekkan pada benda-benda mati,sedangkan psikologi berobyekkan pada manusia yang hidup, sebagai makhluk yang dinamik, makhluk yang berkebudayaan, makhluk yang berkembang dan dapat berubah setiap saat.

4.      Hubungan psikologi dengan filsafat
Manusia sebagai makhluk hidup merupakan obyek dari filsafat yang antara lain membicarakan tentang hakikat kodrat manusia,tujuan hidup manusia dan sebagainya. Sekalipun psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, karena metode yang ditempuh sebagai salah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. bahkan sebetulnya dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengnai hal-hal yang menyangkut sifat hakiki serta tujuan dari ilmu pengetahuan itu.

5.      Hubungan psikologi dengan pedagogiek
Kedua ilmu ini hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain,karena memiliki hubungan timbal balik.Pedagogiek sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberi bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati tidak akan sukses,bila mana tidak mendasarkan diri pada psikologi,yang tugasnya memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa,bahkan cirri dan wataknya serta kepribadiannyapun ditunjukkan oleh psikologi. Dengan demikian,pedagogiek baru akan tepat mengenai sasaran,apabila dapat memahami langkah-langkahnya sesuai petunjuk-petunjuk psikologi. Oleh karena sangat eratnya tugas antara keduanya,maka timbul “educational psychology” (ilmu jiwa pendidikan).   

6.      Hubungan psikologi dengan agama
Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, mengingat agama sejak turunnya kepada Rasulullah diajarkan pada manusia dengan dasar-dasar yang sesuai dengan kondisi dan situasi psikologis pula. Tanpa dasar tersebut,agama sulit mendapat tempat di dalam jiwa manusia. Di dalam agama terdapat ajaran agama tentang bagaimana agar manusia mau menerima petunjuk Tuhannya. Hingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa di dalam agama itu,penuh dengan unsur-unsur Paedagogis yang bahkan merupakan essensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Unsur paedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia kecuali bilamana disampaikan kepadannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi.
Contoh bahwa psikologi dan agama memiliki kaitan yang erat ialah terhadap manusia yang melanggar norma-norma agama dipandang berdosa. Perasaan berdosa pada manusia tersebut dapat mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahiriyah tidak diberikan terhadapnya. Psikologi memandang bahwa orang yang berdosa itu berarti telah menghukum dirinya sendiri,karena dengan perbuatan pelanggaran tersebut,jiwa mereka menjadi tertekan,kotor dan gelap yang apabila yang bersangkutan tidak dapat mensublimasikan (mengalihkan pada perbuatan yang lebih baik), perasaannya akan menyebabkan penyakit jiwa (psichistania) yang merugikan dirinya sendiri. Dalam hal itulah pendidikan agama sangat diperlukan untuk member jalan sublimatif serta katharisasi (pembersihan jiwa) orang yang menderita dosa. Karena eratnya hubungan keduanya,maka lahirlah psikologi agama.

E.     PENUTUP
a.       Kesimpulan
Dapat di ambil kesimpulan terkait pembahasan perkuliahan kita mengenai psikologi itu sendiri bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya serta beberapa manfaat yang dapat kita ambil setelah kita mengetahui dan mempelajari psikologi itu dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

b.      Kritik dan saran.
Kami selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan makalah ini dan mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini lebih bermanfaat dan lebih baik kualitasnya dimasa mendatang. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya.





DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Umum. Semarang : Rineka Cipta
Poernadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka
Rama, Tri. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung : CV. Pustaka Setia
Sujanto, Agus. 2001. Psikologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara





#Aisyah Amini

KONSELING GESTALT



KONSELING GESTALT
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas  Kelompok  dalam Mata Kuliah Model-Model Konseling II  Semester VI Jurusan BKI.C
Oleh
Kelompok 1

Aisyah Amini         212. 237
     Risa Putri Yanti    212.  023
     Friska Wahyuni    212.  105
     M. zahir ikhlas      211. 048
     Ariful Irsyad          212. 194
     Irza Helna             211. 173
 

DosenPembimbing
Dra. Zuwirda, M. Pd. Kons


JURUSAN BIMBINGAN  DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
2015

 
KONSELING GESTALT

I.            PENDAHULUAN
            Terapi gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu-individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran, terapi Gestalt berfokus pada apa dan bagaimananya tingkah laku dan pengalaman disini dan sekarang dengan memadukan bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tak diketahui.
            Konseling gestalt menemukan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari proses konselingnya serta asumsi dasar terapi Gestalt adalah bahwa individu-individu mampu menangani sendiri masalah-masalah hidupnya secara efektif. Tugas utama  terapis adalah membantu klien agar mengalami sepenuhnya keberadaannya disini dan sekarang dengan menyadarkannya atas tindakannya mencegah diri sendiri merasakan dan mengalami saat sekarang.

II.            PEMBAHASAN
           
A.    Sejarah
Konseling gestalt diciptakan dan dikembangkan oleh Frederick S, Perls. Perls mendapatkan gelar di bidang medis universitas Frederick wilhem berlin, jerman tahun 1921. Selanjutnya dia melakukan percobaannya di bidang institute psikoanalisis berlin, frankfuurt, dan Vienna. Pada tahun 1993 perls membuka praktek pribadinya di Amsterdam sampai kedatangan nazi. Perls pndah ke afrika sleanyan pada tahun 1935. Di afrika selatan, perls mengembangkan terapi gestaltnya, namun publikasinya terhalang karena ia berada di daerah terpencil dan kesibukannya sebagai penceramah.
Pada tahun 1964 perls pindah ke amerika serikat menjadi guru terapi gestalt di institut erasalen California sampai dengan tahun 1969. Konseling gestalt ini bersumber dari pengaruh tiga disiplin teori yang sangat berbeda yaitu psikoanalis, fenomenilogi eksistensialisme eropa dan psikologi gestalt.
Konseling gestalt menemukan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari proses konselingnya, serta serangkaian eksperimen yang dapat di pergunakan langsung oleh para penggunanya. Mengenal klien menjadi sasarannya, dapat di simpulkan bahwa klien terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, murid sekolah, pegawai/ karyawan, pasangan suami istri yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan dirinmya dalam hidup dan lingkungannya, yaitu mereka yang mendapat gangguan psikologis dan yang ptensi dirinya tidak berkembang ( Taufik, 2009: 141)
Gestalt adalah salah satu ancangan konseling yang digolongkan ke dalam perspektif efektif. Dikatakan berorientasi afektif karena ancangan ini menganut asumsi-asumsi humanistic sebagaimana eksistensialisme dan konseling berpusat pada pribadi. Gestalt bertumpu pada konsep konfigurasi, integrasi, totalitas, keseluruhan dan keutuhan suatu fenomena. Sebagai ancangan konseling atau psikoterapi, ini dikembangkan oleh Frederick S. Perls. Mereka menerapkan ‘gestalt’ dalam konseling berpegang pada keyakinan bahwa suatu respons terhadap suatu situasi merupakan suatu keutuhan respons terhadap suatu keutuhan situasi.

B.     Pandangan Tentang Manusia
Gestalt memandang pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai suatu fenomena yang unik, dimana Persl mengembangkan terapi Gestalt ini dengan menggunakan prinsip-prinsip humanistic. Passons dalam George & Cristiani (1990), memberikan delapan asumsi yang nantinya akan digunakan oleh terapi Gestalt. Kedelapan asumsi tersebut sebagai berikut:
a.       Manusia merupakan suatu komposisi yang menyeluruh yang diciptakan dari adanya interelasi bagian-bagian.
b.      Seseorang juga merupakan bagian dari lingkungannya dan tidak dapat dipahami dengan memisahkannya.
c.       Seseorang memilih bagaimana merespon stimulasi eksternal, dia merupakan aktor dalam dunianya dan bukan reactor.
d.      Seseorang mempunyai potensi untuk secara penuh menyadari keseluruhan sensasi, pemikiran, emosi dan persepsinya.
e.       Seseorang mampu untuk membuat pilihan karena kesadarannya.
f.       Seseorang mempunyai kemampuan untuk menentukan kehidupan secara efektif.
g.      Seseorang tidak mengalami masa lalu dan masa yang akan datang, mereka hanya akan dapat mengalami dirinya pada saat ini.
h.      Seseorang itu pada dasarnya baik dan bukan buruk.

A.    Manusia sehat / tidak sehat
a.       Manusia sehat
Dalam terapi Gestalt diberikan beberapa ciri kepribadian yang sehat. Adapun ciri kepribadian seseorang yang sehat adalah:
a.    Mampu mengatur diri sendiri
b.    Bertanggung jawab
c.    Memiliki kematangan
d.   Memiliki keseimbangan diri
Menurut Franki dalam Schultz (1991) menyatakan beberapa ciri atau sifat-sifat kepribadian seseorang yang sehat antara lain:
a.    Mereka bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri
b.    Mereka bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka
c.    Mereka tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar diri mereka
d.   Mereka telah menemukan arti dalam kehidupan yang cocok dengan mereka
e.    Mereka secara sadar mengontrol kehidupan mereka
f.     Mereka mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, nilai-nilai pengalaman atau nilai-nilai sikap
g.    Mereka telah mengatasi perhatian terhadap diri

b.      Manusia tidak sehat.
Menurut Passons dalam George dan Cristiani (1990) menyatakan secara umum permasalahan manusia yaitu:
a.       Kesenjangan akan kesadaran
b.      Kesenjangan akan tanggung jawab
c.       Kehilangan kontak dengan lingkungan
d.      Ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas Gestalt
e.       Tidak memiliki kebutuhan

Dalam terapi Gestalt diberikan beberapa ciri kepribadian yang menyimpang. Adapun ciri-ciri kepribadian seseorang yang menyimpang adalah sebagai berikut:
1.      Introjections, menempatkan keinginan terhadap objek atau individu dan bertindak seakan-akan benda atau individu tersebut adalah miliknya tanpa memperlihatkan apakah benda atau orang tersebut ada atau tidak ada.
2.      Projection, mempunyai arti sesuatu mekanisme pertahanan diri seseorang mendistribusikan motif-motif dalam dirinya kepada orang lain.
3.      Retroflection, berisi tentang diri seseorang yang mempunyai keinginan untuk menjadi sesuatu tetapi dialihkan kepada orang lain.
4.      Confluence, suatu tingkatan kepribadian seseorang yang tidak dapat memperkirakan ingkaran atau dirinya dan lingkungan (mencakup orang lain) atau suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat mentoleransi perbedaan dengan orang lain.

B.     Tujuan Konseling
Terapi Gestalt berusaha untuk membantu seseorang agar dapat menerima dan memiliki kembali suasana saat ini. Gestalt membantu individu agar dapat berada dalam kondisi saat ini dan disini. Mereka bisa berpijak dalam suasana aman pada momen kehidupan sekarang. Lebih lanjut dikatakan oleh Perls bahwa sasaran terapi adalah menjadikan konseli tidak bergantung kepada orang lain, menjadikan konseli menemukan sejak awal bahwa dia bisa melakukan banyak hal, lebih banyak dari pada yang dikiranya dengan kata lain ajaran Perls adalah kosongkan pikiran anda dan capailah kesadaran.
Kesadaran terhadap apa yang dialami oleh individu saat ini akan mengarahkan mereka pada penerimaan terhadap kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki, mereka akan mengatur diri mereka sendiri dan menentukan apa yang bisa mereka perbuat. Mereka akan menjadi diri mereka sendiri dan bukan menjadi orang lain.
Dalam upaya mencapai tujuan konseling, peranan konselor adalah sebagai berikut;
    1. Konselor membangun suasana yang memungkinkan klien dapat menampilkan diri, membuka diri dan berusaha mengenali dirinya sendiri
    2. Apabila klien telah menyadari dirinya sendiri dan lingkungannya, kemudian konselor berusaha menyeimbangkan keinginan yang ada dalam self dan self-image
    3. Konselor memberikan kemungkinan kesempatan bagi klien untuk berkembang

Proses konseling bersifat aktif, konfrontatif yang menekankan apa dan bagaimana klien berpengalaman. Konseling membantu klien;
1.      Memahami kekuatan-kekuatannya sendiri
2.      Menggunakan kekuatan itu dalam kehidupan sehari-hari (Prayitno,1998; 70)

Menurut terapi Gestalt seseorang dapat berhubungan dengan permasalahannya secara efektif jika mereka mengemukakan kesadarannya atas apa yang terjadi disekitarnya. Dengan demikian, konseli diasumsikan mempunyai kapasitas untuk mendukung dirinya sendiri serta mampu mengambil tanggung jawab setelah menyelesaikan terapi. Untuk hal tersebut, Gestalt dalam Corey (1986) menggunakan beberapa istilah sebagai berikut:
1.      Keadaan saat ini
Keadaan saat ini terapi Gestalt mempunyai pandangan bahwa apa yang telah terjadi adalah masa lalu dan apa yang akan terjadi itu belum tentu datang. Keadaan yang signifikan dengan masalah konseli adalah keadaan saat ini.
2.      Urusan yang belum selesai
Konsep lain dati terapi Gestalt adalah urusan yang belum selesai. Keadaan ini mencakup beberapa perasaan yang tidak diekspresikan oleh seseorang seperti marah, benci, sakit, menyesali dan bersalah.
3.      Penghindaran
Dengan kata lain, bahwa seseorang akan berusaha untuk menghindarkan dirinya dalam menghadapi urusan yang belum selesai dan dari suatu pengalaman emosi yang tidak mengenakkan (Corey, 1986).
4.      Lapisan neurosis
Terapi Gestalt bertujuan untuk membuat seseorang itu menjadi matang. Hanya saja, ada beberapa lapisan yang dapat membuat seseorang itu terhambat untuk mencapai kematangan. Lapisan-lapisan itu antara lain:
a.    Kebohongan
b.    Ketakutan
c.    Jalan buntu
d.   Implosive
e.    Meledak-ledak

5.      Kontak dan hambatan dalam kontak
Dalam terapi Gestalt, kontak atau hubungan mempunyai peranan yang sangat penting. Jika seseorang mengadakan kontak dengan lingkungannya, maka akan terjadi perubahan yang diinginkan. Kontak seseorang dengan lingkungan di sekitarnya dilakukan dengan cara melihat, mendengar, membaau, menyentuh dan bergerak. Kontak yang baik merupakan suatu hubungan dimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya tanpa kehilangan kepribadiannya.
Dalam terapi Gestalt juga memperhatikan adanya hambatan-hambatan dalam menciptakan hubungan atau kontak dengan lingkungannya, menurut terapi Gestalt, hambatan itu akan muncul pada seseorang bertahan terhadap kejadian-kejadian yang nyata. Hambatan-hambatan itu hampir sama dengan apa yang pernah diidentifikasi oleh Freud.

6.      Energi dan hambatan energi
Dalam terapi Gestalt, selain kontak atau hubungan energi menjadi perhatian bagaimana energi itu digunakan untuk dapat di blok. Energi yang terkandung merupakan suatu bagian dari hambatan bagi perkembangan manusia. Hambatan yang muncul ini bisa termanifestasikan pada ketegangan tubuh, postur tubuh dan juga berbicara dengan suara keras untuk mendapat perhatian.



C.    Konselong Gestal dalam Perspektif Islam.
         Dalam islam teknik yang dipakainya untuk mengentaskan masalah klien ini berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah, dimana tekniknya yaitu;
1.      Pendekatan konseling nasehat yang menyentuh hati
2.      Pendekatan konseling Tanya jawab atau dialog
3.      Pendekatan konseling kabar takut dan kabar gembira
4.      Pendekatan konseling dengan tamsil
5.      Pendekatan konseling pujian dan motivasi
6.      Pendekatan konseling dengan kinayyah
7.      Pendekatan konseling tidak malu mengajarkan agama.
8.      Pendekatan konseling mengajar dengan perbuatan
9.      Pendekatan konseling menjawab lebih dari yang ditanyai
10.  Pendekatan konseling melalui pengulangan pelajaran
11.  Pendekatan konseling dengan sikap lemah lembut dan keras (Abd Rahman,1008; 111-137)

III.            PENUTUP
a.      Kesimpulan
Gestalt adalah salah satu ancangan konseling yang digolongkan ke dalam perspektif efektif. Dikatakan berorientasi afektif karena ancangan ini menganut asumsi-asumsi humanistic sebagaimana eksistensialisme dan konseling berpusat pada pribadi. Gestalt bertumpu pada konsep konfigurasi, integrasi, totalitas, keseluruhan dan keutuhan suatu fenomena.
Gestalt memandang manusia tidaklah independen dari lingkungannya melainkan bertindak selaku keseluruhan manusia bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu koordinasi. Manusia dianggap sebagai suatu sistem dalam keseimbangan. Manusia bermukim dalam suatu tataran publik (berbuat) dan tataran ptivat (berfikir). Ketidak seimbangan dialami sebagai adanya kebutuhan korektif. Kesadaran meluangkan regulasi diri dan kontrol diri. Kecemasan dipandang oleh ancangan Gestalt sebagai kesenjangan antara sekarang dan yang kemudian situasi yang (tidak) rampung.


b.      Kritik dan saran
       Kami selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan makalah ini dan mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini lebih bermanfaat dan lebih baik kualitasnya dimasa mendatang. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Mapplare, Andi, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1992.
Corey, Gerald, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, PT Refika Aditama: Bandung, 2007.
Rhman, Abd, Jemkhairil, 2008, Konsep konseling nabi Muhammad Saw, Hayfa pers; Padang
Taufik, 2009 Model-Model Konseling, BK FIP UNP; Padang
Surya, Muhammad, Teori-Teori Konseling, Pustaka Bani Quraisy: Bandung, 2003.
Hartono, Soedarmadji Boy, Psikologi Konseling, Kencana Prenada Modra Group: Jakarta, 2012.