Selasa, 24 Maret 2015

KONSELING GESTALT



KONSELING GESTALT
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas  Kelompok  dalam Mata Kuliah Model-Model Konseling II  Semester VI Jurusan BKI.C
Oleh
Kelompok 1

Aisyah Amini         212. 237
     Risa Putri Yanti    212.  023
     Friska Wahyuni    212.  105
     M. zahir ikhlas      211. 048
     Ariful Irsyad          212. 194
     Irza Helna             211. 173
 

DosenPembimbing
Dra. Zuwirda, M. Pd. Kons


JURUSAN BIMBINGAN  DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
2015

 
KONSELING GESTALT

I.            PENDAHULUAN
            Terapi gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu-individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran, terapi Gestalt berfokus pada apa dan bagaimananya tingkah laku dan pengalaman disini dan sekarang dengan memadukan bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tak diketahui.
            Konseling gestalt menemukan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari proses konselingnya serta asumsi dasar terapi Gestalt adalah bahwa individu-individu mampu menangani sendiri masalah-masalah hidupnya secara efektif. Tugas utama  terapis adalah membantu klien agar mengalami sepenuhnya keberadaannya disini dan sekarang dengan menyadarkannya atas tindakannya mencegah diri sendiri merasakan dan mengalami saat sekarang.

II.            PEMBAHASAN
           
A.    Sejarah
Konseling gestalt diciptakan dan dikembangkan oleh Frederick S, Perls. Perls mendapatkan gelar di bidang medis universitas Frederick wilhem berlin, jerman tahun 1921. Selanjutnya dia melakukan percobaannya di bidang institute psikoanalisis berlin, frankfuurt, dan Vienna. Pada tahun 1993 perls membuka praktek pribadinya di Amsterdam sampai kedatangan nazi. Perls pndah ke afrika sleanyan pada tahun 1935. Di afrika selatan, perls mengembangkan terapi gestaltnya, namun publikasinya terhalang karena ia berada di daerah terpencil dan kesibukannya sebagai penceramah.
Pada tahun 1964 perls pindah ke amerika serikat menjadi guru terapi gestalt di institut erasalen California sampai dengan tahun 1969. Konseling gestalt ini bersumber dari pengaruh tiga disiplin teori yang sangat berbeda yaitu psikoanalis, fenomenilogi eksistensialisme eropa dan psikologi gestalt.
Konseling gestalt menemukan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari proses konselingnya, serta serangkaian eksperimen yang dapat di pergunakan langsung oleh para penggunanya. Mengenal klien menjadi sasarannya, dapat di simpulkan bahwa klien terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, murid sekolah, pegawai/ karyawan, pasangan suami istri yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan dirinmya dalam hidup dan lingkungannya, yaitu mereka yang mendapat gangguan psikologis dan yang ptensi dirinya tidak berkembang ( Taufik, 2009: 141)
Gestalt adalah salah satu ancangan konseling yang digolongkan ke dalam perspektif efektif. Dikatakan berorientasi afektif karena ancangan ini menganut asumsi-asumsi humanistic sebagaimana eksistensialisme dan konseling berpusat pada pribadi. Gestalt bertumpu pada konsep konfigurasi, integrasi, totalitas, keseluruhan dan keutuhan suatu fenomena. Sebagai ancangan konseling atau psikoterapi, ini dikembangkan oleh Frederick S. Perls. Mereka menerapkan ‘gestalt’ dalam konseling berpegang pada keyakinan bahwa suatu respons terhadap suatu situasi merupakan suatu keutuhan respons terhadap suatu keutuhan situasi.

B.     Pandangan Tentang Manusia
Gestalt memandang pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai suatu fenomena yang unik, dimana Persl mengembangkan terapi Gestalt ini dengan menggunakan prinsip-prinsip humanistic. Passons dalam George & Cristiani (1990), memberikan delapan asumsi yang nantinya akan digunakan oleh terapi Gestalt. Kedelapan asumsi tersebut sebagai berikut:
a.       Manusia merupakan suatu komposisi yang menyeluruh yang diciptakan dari adanya interelasi bagian-bagian.
b.      Seseorang juga merupakan bagian dari lingkungannya dan tidak dapat dipahami dengan memisahkannya.
c.       Seseorang memilih bagaimana merespon stimulasi eksternal, dia merupakan aktor dalam dunianya dan bukan reactor.
d.      Seseorang mempunyai potensi untuk secara penuh menyadari keseluruhan sensasi, pemikiran, emosi dan persepsinya.
e.       Seseorang mampu untuk membuat pilihan karena kesadarannya.
f.       Seseorang mempunyai kemampuan untuk menentukan kehidupan secara efektif.
g.      Seseorang tidak mengalami masa lalu dan masa yang akan datang, mereka hanya akan dapat mengalami dirinya pada saat ini.
h.      Seseorang itu pada dasarnya baik dan bukan buruk.

A.    Manusia sehat / tidak sehat
a.       Manusia sehat
Dalam terapi Gestalt diberikan beberapa ciri kepribadian yang sehat. Adapun ciri kepribadian seseorang yang sehat adalah:
a.    Mampu mengatur diri sendiri
b.    Bertanggung jawab
c.    Memiliki kematangan
d.   Memiliki keseimbangan diri
Menurut Franki dalam Schultz (1991) menyatakan beberapa ciri atau sifat-sifat kepribadian seseorang yang sehat antara lain:
a.    Mereka bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri
b.    Mereka bertanggung jawab terhadap tingkah laku hidup mereka
c.    Mereka tidak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar diri mereka
d.   Mereka telah menemukan arti dalam kehidupan yang cocok dengan mereka
e.    Mereka secara sadar mengontrol kehidupan mereka
f.     Mereka mampu mengungkapkan nilai-nilai daya cipta, nilai-nilai pengalaman atau nilai-nilai sikap
g.    Mereka telah mengatasi perhatian terhadap diri

b.      Manusia tidak sehat.
Menurut Passons dalam George dan Cristiani (1990) menyatakan secara umum permasalahan manusia yaitu:
a.       Kesenjangan akan kesadaran
b.      Kesenjangan akan tanggung jawab
c.       Kehilangan kontak dengan lingkungan
d.      Ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas Gestalt
e.       Tidak memiliki kebutuhan

Dalam terapi Gestalt diberikan beberapa ciri kepribadian yang menyimpang. Adapun ciri-ciri kepribadian seseorang yang menyimpang adalah sebagai berikut:
1.      Introjections, menempatkan keinginan terhadap objek atau individu dan bertindak seakan-akan benda atau individu tersebut adalah miliknya tanpa memperlihatkan apakah benda atau orang tersebut ada atau tidak ada.
2.      Projection, mempunyai arti sesuatu mekanisme pertahanan diri seseorang mendistribusikan motif-motif dalam dirinya kepada orang lain.
3.      Retroflection, berisi tentang diri seseorang yang mempunyai keinginan untuk menjadi sesuatu tetapi dialihkan kepada orang lain.
4.      Confluence, suatu tingkatan kepribadian seseorang yang tidak dapat memperkirakan ingkaran atau dirinya dan lingkungan (mencakup orang lain) atau suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat mentoleransi perbedaan dengan orang lain.

B.     Tujuan Konseling
Terapi Gestalt berusaha untuk membantu seseorang agar dapat menerima dan memiliki kembali suasana saat ini. Gestalt membantu individu agar dapat berada dalam kondisi saat ini dan disini. Mereka bisa berpijak dalam suasana aman pada momen kehidupan sekarang. Lebih lanjut dikatakan oleh Perls bahwa sasaran terapi adalah menjadikan konseli tidak bergantung kepada orang lain, menjadikan konseli menemukan sejak awal bahwa dia bisa melakukan banyak hal, lebih banyak dari pada yang dikiranya dengan kata lain ajaran Perls adalah kosongkan pikiran anda dan capailah kesadaran.
Kesadaran terhadap apa yang dialami oleh individu saat ini akan mengarahkan mereka pada penerimaan terhadap kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki, mereka akan mengatur diri mereka sendiri dan menentukan apa yang bisa mereka perbuat. Mereka akan menjadi diri mereka sendiri dan bukan menjadi orang lain.
Dalam upaya mencapai tujuan konseling, peranan konselor adalah sebagai berikut;
    1. Konselor membangun suasana yang memungkinkan klien dapat menampilkan diri, membuka diri dan berusaha mengenali dirinya sendiri
    2. Apabila klien telah menyadari dirinya sendiri dan lingkungannya, kemudian konselor berusaha menyeimbangkan keinginan yang ada dalam self dan self-image
    3. Konselor memberikan kemungkinan kesempatan bagi klien untuk berkembang

Proses konseling bersifat aktif, konfrontatif yang menekankan apa dan bagaimana klien berpengalaman. Konseling membantu klien;
1.      Memahami kekuatan-kekuatannya sendiri
2.      Menggunakan kekuatan itu dalam kehidupan sehari-hari (Prayitno,1998; 70)

Menurut terapi Gestalt seseorang dapat berhubungan dengan permasalahannya secara efektif jika mereka mengemukakan kesadarannya atas apa yang terjadi disekitarnya. Dengan demikian, konseli diasumsikan mempunyai kapasitas untuk mendukung dirinya sendiri serta mampu mengambil tanggung jawab setelah menyelesaikan terapi. Untuk hal tersebut, Gestalt dalam Corey (1986) menggunakan beberapa istilah sebagai berikut:
1.      Keadaan saat ini
Keadaan saat ini terapi Gestalt mempunyai pandangan bahwa apa yang telah terjadi adalah masa lalu dan apa yang akan terjadi itu belum tentu datang. Keadaan yang signifikan dengan masalah konseli adalah keadaan saat ini.
2.      Urusan yang belum selesai
Konsep lain dati terapi Gestalt adalah urusan yang belum selesai. Keadaan ini mencakup beberapa perasaan yang tidak diekspresikan oleh seseorang seperti marah, benci, sakit, menyesali dan bersalah.
3.      Penghindaran
Dengan kata lain, bahwa seseorang akan berusaha untuk menghindarkan dirinya dalam menghadapi urusan yang belum selesai dan dari suatu pengalaman emosi yang tidak mengenakkan (Corey, 1986).
4.      Lapisan neurosis
Terapi Gestalt bertujuan untuk membuat seseorang itu menjadi matang. Hanya saja, ada beberapa lapisan yang dapat membuat seseorang itu terhambat untuk mencapai kematangan. Lapisan-lapisan itu antara lain:
a.    Kebohongan
b.    Ketakutan
c.    Jalan buntu
d.   Implosive
e.    Meledak-ledak

5.      Kontak dan hambatan dalam kontak
Dalam terapi Gestalt, kontak atau hubungan mempunyai peranan yang sangat penting. Jika seseorang mengadakan kontak dengan lingkungannya, maka akan terjadi perubahan yang diinginkan. Kontak seseorang dengan lingkungan di sekitarnya dilakukan dengan cara melihat, mendengar, membaau, menyentuh dan bergerak. Kontak yang baik merupakan suatu hubungan dimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya tanpa kehilangan kepribadiannya.
Dalam terapi Gestalt juga memperhatikan adanya hambatan-hambatan dalam menciptakan hubungan atau kontak dengan lingkungannya, menurut terapi Gestalt, hambatan itu akan muncul pada seseorang bertahan terhadap kejadian-kejadian yang nyata. Hambatan-hambatan itu hampir sama dengan apa yang pernah diidentifikasi oleh Freud.

6.      Energi dan hambatan energi
Dalam terapi Gestalt, selain kontak atau hubungan energi menjadi perhatian bagaimana energi itu digunakan untuk dapat di blok. Energi yang terkandung merupakan suatu bagian dari hambatan bagi perkembangan manusia. Hambatan yang muncul ini bisa termanifestasikan pada ketegangan tubuh, postur tubuh dan juga berbicara dengan suara keras untuk mendapat perhatian.



C.    Konselong Gestal dalam Perspektif Islam.
         Dalam islam teknik yang dipakainya untuk mengentaskan masalah klien ini berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah, dimana tekniknya yaitu;
1.      Pendekatan konseling nasehat yang menyentuh hati
2.      Pendekatan konseling Tanya jawab atau dialog
3.      Pendekatan konseling kabar takut dan kabar gembira
4.      Pendekatan konseling dengan tamsil
5.      Pendekatan konseling pujian dan motivasi
6.      Pendekatan konseling dengan kinayyah
7.      Pendekatan konseling tidak malu mengajarkan agama.
8.      Pendekatan konseling mengajar dengan perbuatan
9.      Pendekatan konseling menjawab lebih dari yang ditanyai
10.  Pendekatan konseling melalui pengulangan pelajaran
11.  Pendekatan konseling dengan sikap lemah lembut dan keras (Abd Rahman,1008; 111-137)

III.            PENUTUP
a.      Kesimpulan
Gestalt adalah salah satu ancangan konseling yang digolongkan ke dalam perspektif efektif. Dikatakan berorientasi afektif karena ancangan ini menganut asumsi-asumsi humanistic sebagaimana eksistensialisme dan konseling berpusat pada pribadi. Gestalt bertumpu pada konsep konfigurasi, integrasi, totalitas, keseluruhan dan keutuhan suatu fenomena.
Gestalt memandang manusia tidaklah independen dari lingkungannya melainkan bertindak selaku keseluruhan manusia bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu koordinasi. Manusia dianggap sebagai suatu sistem dalam keseimbangan. Manusia bermukim dalam suatu tataran publik (berbuat) dan tataran ptivat (berfikir). Ketidak seimbangan dialami sebagai adanya kebutuhan korektif. Kesadaran meluangkan regulasi diri dan kontrol diri. Kecemasan dipandang oleh ancangan Gestalt sebagai kesenjangan antara sekarang dan yang kemudian situasi yang (tidak) rampung.


b.      Kritik dan saran
       Kami selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan makalah ini dan mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini lebih bermanfaat dan lebih baik kualitasnya dimasa mendatang. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Mapplare, Andi, Pengantar Konseling dan Psikoterapi, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1992.
Corey, Gerald, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, PT Refika Aditama: Bandung, 2007.
Rhman, Abd, Jemkhairil, 2008, Konsep konseling nabi Muhammad Saw, Hayfa pers; Padang
Taufik, 2009 Model-Model Konseling, BK FIP UNP; Padang
Surya, Muhammad, Teori-Teori Konseling, Pustaka Bani Quraisy: Bandung, 2003.
Hartono, Soedarmadji Boy, Psikologi Konseling, Kencana Prenada Modra Group: Jakarta, 2012.

Kamis, 12 Februari 2015

Jasad dalam Kubur, Innalillah

Assalamu'alaikum W.W

Pertanyaan saya: ketika seseorang meninggal dunia berarti rohnya sudah dicabut oleh Allah sedangkan alam kubur atau alam barzah adalam alam ke empat di mana seseorang akan berada di sana untuk menunggu alam akhirat tiba. Bagaimana keadaan seseorang yang dalam kuburan itu? apakah rohnya yang sudah dicabut akan dikembalikan ke jasad yang sudah di dalam kuburan itu sehingga ia kembali utuh seperti waktu ia hidup dan menunggu hari kiamat?  Bagaimana juga keadaan seseorang yang sudah dalam kuburan itu ketika menjawab pertanyaan dari malaikat? apakah malaikat bertanya kepada jasad yg sudah dikubur itu saja atau rohnya sudah dipasang lagi ketika malaikat mau bertanya padahal saat kita meninggal kan roh kita sudah dicabut. minta penjelasannya.Trimakasih sebelumnya.

Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Marhamah yang dirahmati Allah swt
Didalam hadits yang diriwayatkan dari al Barro bin ‘Azib bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur—beliau menyebutkan 2 atau 3 kali—kemudian berkata,’Sesungguhnya seorang hamba yang beriman apabila akan berakhir (hidupnya) di dunia dan akan mengawali akheratnya maka turunlah para malaikat dari langit dengan berwajah putih seperti matahari dengan membawa kain kafan dan wewangian dari surga dan mereka duduk disisinya sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk disebelah kepalanya dengan mengatakan,”Wahai jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan dari Allah dan keredhoan-Nya.’ Beliau saw bersabda,’Maka keluarlah ruhnya seperti tetesan air dari bibir orang yang sedang minum maka dia (malaikat maut) pun mengambilnya. Dan tatkala dia mengambilnya maka para malaikat (yang lain) tidaklah membiarkannya berada ditangannya walau hanya sesaat sehingga mereka mengambilnya dan menaruhnya diatas kafan yang terdapat wewangian hingga keluar darinya bau semerbak kesturi yang membuat wangi permukaan bumi.’
Beliau saw bersabda,’Mereka kemudian naik (ke langit) dengan membawa (ruh) orang itu dan tidaklah mereka melewati para malaikat kecuali mereka bertanya,’Ruh yang baik siapa ini?’ Mereka menjawab,’Fulan bin Fulan, dengan menyebutkan nama terbaik yang dimilikinya di dunia’ sehingga mereka berhenti di langit dunia. Mereka pun meminta agar dibukakan (pintu) baginya maka dibukalah (pintu itu) bagi mereka dan mereka berpindahlah ke langit berikutnya sehingga sampai ke langit ketujuh dan Allah mengatakan,’Tulislah kitab hamba-Ku ini di ‘illiyyin dan kembalikanlah ke bumi, sesungguhnya darinyalah Aku ciptakan mereka dan kepadanyalah Aku mengembalikan mereka dan darinya pula Aku mengeluarkan mereka sekali lagi.’
Beliau saw bersabda,’Dan ruh itu pun dikembalikan ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat yang mendudukannya dan bertanya kepadanya,’Siapa Tuhanmu?’ dia pun menjawab,’Tuhanku Allah.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa agamamu?’ dia menjawab,’Agamaku Islam.’ Keduanya bertanya,’Siapa lelaki yang diutus kepada kalian ini?’ dia menjawab,’Dia adalah Rasulullah saw.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa ilmumu?’ dia menjawab,’Aku membaca Al Qur’an, Kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya.’
Terdengarlah suara yang memanggil dari langit,’Karena kebenaran hamba-Ku maka hamparkanlah (suatu hamparan) dari surga, pakaikanlah dengan pakaian dari surga, bukakanlah baginya sebuah pintu menuju surga.’ Beliau saw bersabda,’maka terciumlah wanginya serta dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang.’

Beliau bersabda,’Datanglah seorang laki-laki berwajah tampan, berbaju indah dengan baunya yang wangi mengatakan,’Bahagialah engkau di hari yang engkau telah dijanjikan.’ Orang (yang beriman) itu mengatakan,’Siapa angkau? Wajahmu penuh dengan kebaikan’ dia menjawab,’Aku adalah amal shalehmu.’ Orang itu mengatakan,’Wahai Allah, segerakanlah kiamat sehingga aku kembali kepada keluarga dan hartaku.’

Beliau saw bersabda,’Sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila akan berakhir (hidupnya) di dunia akan akan mengawali akheratnya maka turunlah para malaikat dari langit yang berwajah hitam dengan membawa kain dan merekapun duduk disisinya sejauh mata memandang kemudian datang malaikat maut dan duduk disebelah kepalanya dengan mengatakan,’Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju amarah dan murka Allah.’

Beliau saw bersabda,’maka dipisahkanlah ruh dari jasadnya seperti duri yang dicabut dari kain yang basah kemudian malaikat (maut) pun mengambilnya dan tatkala malaikat maut mengambilnya maka mereka (malaikat lain) tidaklah membiarkannya berada di tangannya walau sesaat sehingga meletakkannya dikain itu dan dibawanya dengan bau bangkai busuk yang meyebar di permukaan bumi. Mereka pun membawanya dan tidaklah mereka melintasi malaikat kecuali mereka bertanya,’Ruh buruk milik siapa ini?’ mereka menjawa,’Fulan bin Fulan dengan menyebutkan nama yang paling buruknya di dunia.’
Kemudian mereka sampai di langit dunia dan meminta untuk dibukakan (pintu) baginya maka tidaklah dibukakan baginya kemudian Rasulullah saw membaca firman-Nya,”Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke lobang jarum.” Kemudian Allah berkata,’Tulislah kitabnya di sijjin di bumi yang paling rendah maka ruhnya dilemparkan dengan satu lemparan. Kemudian beliau saw membaca,”Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan ke tempat yang jauh.’
Ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya dan datanglah dua malaikat mendudukannya seraya bertanya,”Siapa Tuhanmu?’ maka dia menjawab,’a..a… aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya.’Apa agamamu?’ dia menjawab,’a…a…aku tidak tahu.’ Keduanya bertanya,’Siapa laki-laki yang diutus kepadamu ini?’ dia menjawab,’a…a…aku tidak tahu.’ Maka terdengar seruan dari langit.’ Karena pendustaan (nya) maka hamparkanlah (suatu hamparan) dari neraka dan bukakan baginya suatu pintu munuju neraka dan terasalah panas serta angin panasnya bagi orang itu dan dia pun dihimpit oleh kuburnya sehingga hancur tulang-tulangnya.
Datanglah seorang laki-laki yang berwajah buruk dengan pakaian yang bau busuk dan mengatakan,”Bergembiralah kamu dihari yang buruk bagimu yang telah dijanjikan ini.’ Orang itu berkata,’Siapa kamu dengan wajahmu yang penuh dengan kajahatan.’ Dia menjawab,’Aku adalah amal burukmu.’ Orang itu pun berkata,’Wahai Allah janganlah engkau adakan kiamat.” (HR. Ahmad)
Hadits diatas menjelaskan tentang keadaan ruh seseorang saat berpisah dari jasadnya pada saat sakaratul maut. Kemudahan saat itu dialami oleh seorang yang beriman sementara kesulitan yang luar biasa dialami oleh seorang yang kafir.
Hadits itu pun menjelaskan bahwa ruh yang dibawa menuju langit setelah terlepas dari jasadnya kemudian dikembalikan lagi ke jasadnya di bumi untuk merasakan fitnah kubur, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dua malaikat tentang siapa tuhannya, nabi-Nya dan agamanya.
Seorang yang beriman diberikan kemudahan didalam menjawab pertanyaan itu, sebagaimana janji Allah swt kepadanya, firman-Nya :

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء

Artinya : “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)
Sebaliknya dengan keadaan seorang yang kafir, ia tidak sanggup menjawab semua pertanyaan tersebut dikarenakan kekufurannya.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits itu memberikan pengetahuan bahwa ruh tetap ada setelah berpisah dari badannya berbeda dengan orang-orang sesat dari kalangan ahli kalam. Ruh itu juga naik (ke langit) dan turun (darinya) berbeda dengan orang-orang sesat dari kalangan ahli ilsafat. Serta ruh dikembalikan ke badan lalu orang yang meninggal itu akan ditanya maka ia akan mendapatkan nikmat atau adzab sebagaimana pertanyaan yang diajukan oleh malaikat penanya. Didalam kubur itu amal shaleh atau buruknya akan mendatanginya dengan suatu bentuk yang baik atau buruk.

Wallahu A’lam